soedjadi family

October 1, 2006

Ada yang mau merit

Filed under: Uncategorized

Sepupuku ada yang mau merit (namanya XXX). Berita gembira khan harusnya?

Well… it’s not that fun! Tahu nggak? Keluarga di Malang jadi bertengkar karena itu. Persoalannya sepele, hanya perkara catering. Ada tante yang ingin catering, ada tante yang ingin dimasakkan tetangga, dll.

Aduh.. ampun deh! masak bertengkar untuk hal nggak penting gitu?

Terus soal seragam. Kata Ibuku, seragam kami beli sendiri-sendiri. Aku sudah beli kebaya (bagus looh, penuh payet, warna pink). Ternyata, sudah dibelikan di Malang. Lebih parahnya lagi, seragam yang sudah dibelikan untuk aku ternyata tidak aku pakai, karena direncanakan aku bagian membawa kembang mayang, jadi sudah ada seragam lain bareng sama pengantin. waaalaah…..

cccck.. yangmerit satu, yang sibuk semuanya… emoticon

Pendidikan Jaman Sekarang (dan jaman dulu)

Filed under: Uncategorized

Satu hal yang aku sangat sesali dalam pendidikan dasar di Indonesia adalah besarnya porsi hafalan yang diberikan guru-guru kepada siswa.

Sebetulnya tujuan pendidikan dasar itu apa sih? Harusnya yang namanya pendidikan dasar, berarti memberikan dasar yang berguna untuk menempuh pendidikan selanjutnya. Yang namanya dasar, mestinya adalah pemahaman awal tentang ilmu pengetahuan, bukannya hafalan!

Saat di sekolah dasar, siswa seharusnya dibangkitkan rasa ingin tahunya, dibangkitkan keinginan belajarnya, dibangkitkan kreatifitasnya. Kalau isinya hanya menghafal… esensi dari ilmu yaitu curiosity akan hilang.

Apakah itu yang diinginkan oleh sekolah-sekolah? Apa itu yang memang diinginkan oleh para wali murid? Bolehlah, kita berbangga pada anak yang mendapatkan juara I IPA karena hafalannya sangat kuat. Tetapi yang menjadi pertanyaan, akankah kita tergiur pada fondasi hafalan yang rapuh daripada pemahaman yang baik tanpa hafalan? Apakah kita menginginkan penerus kita menjadi generasi yang tidak kreatif dan tidak ada keinginan berinovasi? Yang ada hanya menghafal melulu….

Mengapa ini yang terjadi di Indonesia?

Aku mencoba men-list beberapa kemungkinan alasan:

  • kurikulum SD yang terlalu padat (kata lainnya pembuat kurikulum yang nggak membumi… Mungkin dibuat oleh professor-professor, tapi professor yang tidak tahu bagaimana membuat anak menjadi kreatif)
  • guru-guru yang lebih mementingkan nilai bagus dari murid dengancara hafalan daripada membuat mereka paham. Kita tahu, betapa berat tekanan menjadi guru SD. Sudah tidak dihargai, ditekan segala arah, pemerintahan yang cuek bebek, dst… Guru juga manusia, gimana bisa mikirin murid kalau keadaannya seperti itu? Akhirnya, diambil cara gampang, murid disuruh menghafal, tidak usah perduli apakah itu benar atau tidak. "Pokoknya dihafal.. kamu nggak usah tanya-tanya!".
  • Orang tua yang kurang "aware" dengan pendidikan anaknya.Hla gimana lagi? Kita khan sudah susah memikirkan hidup. Sukur-sukur anak bisa sekolah…

Hmm… ya… pendidikan memang masalah kita bersama. Mari kita bersama-sama membentuk generasi penerus yang kreatif, mandiri, dan inovatif demi mencapai Indonesia Merdeka….

*sari*

Nilai T

Filed under: jadi dosen

Dari sekian mahasiswa ada yang aku beri nilai T. Habis mau gimana lagi? Sudah sering nggak masuk, nggak pernah ngumpulin tugas, datang cuma pas UTS dan UAS dengan nilai yang pas-pasan. Maunya sih malah dibuat nggak lulus. Tapi kasihan juga, soalnya tahun ini kalau dia belum lulus, dia akan di-DO

Aku beri nilai T itu sudah semester lalu. Mestinya khan ada kesempatan memperbaiki. Aku tunggu-tunggu sampai 2 bulan, dia tidak juga datang. Ya, wis.. aku pikir memang dia sudah dapat nilai di mata kuliah lain (kebetulan yang aku ajar mata kuliah pilihan).

Eh, dilalah…. suatu malam tiba-tiba dia datang ke rumah. Dia bilang ingin nilainya keluar. Aku jawab, "beres lah, tapi kamu harus mengerjakan tugas".

Dia berkata,"Nilainya paling lambat harus masuk besok".

Nah, lho… kok gitu? Kok nggak dari dulu! Dasar mahasiswa malas, "loh, kok nggak dari dulu? Kamu khan masih punya kesempatan banyak waktu itu. Sekarang masak kamu paksa aku mengeluarkan nilai?".

"maaf bu", mahasiswa itu menyodorkan sekotak kue. Apa dipikirnya aku bisa dibeli?

"ya udah, kamu ngerjain tugas, cari paper aja.. tentang software maintenance".

AKhirul kata, dia pergi dengan meninggalkan kue di meja ruang tamu. Keesokan harinya, aku terpaksa siang-siang berangkat ke Unpas, hanya untuk memasukkan nilainya. Aku sudah percaya saja kalau dia sudah mengumpulkan tugas di TU. Ternyata, ya ampuuun…. dia belum memasukkan tugas. Tugas segampang itu, dan dia nyaris DO… masih ajah males….

Denganberat hati, akhirnya nilai kau keluarkan juga, "C". Walaaaah… kok ya ada mahasiswa semalas itu. Nggak niat sekolah ya? Kalau gitu sekalian ajah nggak usah kuliah, ngabisin duit ortu.

*sari*






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham