Pendidikan Jaman Sekarang (dan jaman dulu)
Satu hal yang aku sangat sesali dalam pendidikan dasar di Indonesia adalah besarnya porsi hafalan yang diberikan guru-guru kepada siswa.
Sebetulnya tujuan pendidikan dasar itu apa sih? Harusnya yang namanya pendidikan dasar, berarti memberikan dasar yang berguna untuk menempuh pendidikan selanjutnya. Yang namanya dasar, mestinya adalah pemahaman awal tentang ilmu pengetahuan, bukannya hafalan!
Saat di sekolah dasar, siswa seharusnya dibangkitkan rasa ingin tahunya, dibangkitkan keinginan belajarnya, dibangkitkan kreatifitasnya. Kalau isinya hanya menghafal… esensi dari ilmu yaitu curiosity akan hilang.
Apakah itu yang diinginkan oleh sekolah-sekolah? Apa itu yang memang diinginkan oleh para wali murid? Bolehlah, kita berbangga pada anak yang mendapatkan juara I IPA karena hafalannya sangat kuat. Tetapi yang menjadi pertanyaan, akankah kita tergiur pada fondasi hafalan yang rapuh daripada pemahaman yang baik tanpa hafalan? Apakah kita menginginkan penerus kita menjadi generasi yang tidak kreatif dan tidak ada keinginan berinovasi? Yang ada hanya menghafal melulu….
Mengapa ini yang terjadi di Indonesia?
Aku mencoba men-list beberapa kemungkinan alasan:
-
kurikulum SD yang terlalu padat (kata lainnya pembuat kurikulum yang nggak membumi… Mungkin dibuat oleh professor-professor, tapi professor yang tidak tahu bagaimana membuat anak menjadi kreatif)
-
guru-guru yang lebih mementingkan nilai bagus dari murid dengancara hafalan daripada membuat mereka paham. Kita tahu, betapa berat tekanan menjadi guru SD. Sudah tidak dihargai, ditekan segala arah, pemerintahan yang cuek bebek, dst… Guru juga manusia, gimana bisa mikirin murid kalau keadaannya seperti itu? Akhirnya, diambil cara gampang, murid disuruh menghafal, tidak usah perduli apakah itu benar atau tidak. "Pokoknya dihafal.. kamu nggak usah tanya-tanya!".
-
Orang tua yang kurang "aware" dengan pendidikan anaknya.Hla gimana lagi? Kita khan sudah susah memikirkan hidup. Sukur-sukur anak bisa sekolah…
Hmm… ya… pendidikan memang masalah kita bersama. Mari kita bersama-sama membentuk generasi penerus yang kreatif, mandiri, dan inovatif demi mencapai Indonesia Merdeka….
*sari*
